logo
Sampul Musyawarah Para Burung

Musyawarah Para Burung

Fariduddin Attar

Diterjemahkan dari bahasa Persia oleh Sholeh Wolpé, dan dari bahasa Inggris oleh Denny Turner.

Ketika hidup terasa tanpa arah, ke mana seharusnya kita melangkah? Dalam kisah alegoris yang memikat ini, sekumpulan burung dari seluruh penjuru berkumpul untuk mencari raja sejati mereka, Simurgh. Dipimpin oleh burung hudhud, mereka memulai perjalanan panjang yang tidak hanya menguji keberanian, tetapi juga menuntut mereka melepaskan ego, menghadapi ketakutan, dan mempertanyakan siapa diri mereka sebenarnya.

Tentang Para Penerjemah

Sholeh Wolpé

Penerjemah Persia–Inggris

Sholeh Wolpé adalah penyair, penulis, dan librettis kelahiran Iran yang menulis dalam bahasa Inggris serta menerjemahkan dari bahasa Persia. Ia pernah tinggal di Iran, Trinidad, dan Inggris, dan kini membagi waktunya antara California dan Barcelona. Ia menjabat sebagai Writer-in-Residence di University of California, Irvine.

Karya-karyanya mencakup tujuh kumpulan puisi, sejumlah naskah drama, lima buku terjemahan, serta tiga antologi. Ia juga menulis teks dan libretto untuk paduan suara dan opera.

Karya terbarunya antara lain The Invisible Sun: A Translation of Attar’s The Conference of the Birds (HarperCollins), yang masuk daftar panjang PEN America Translation Award 2025, serta Abacus of Loss: A Memoir in Verse (University of Arkansas Press), yang juga terbit dalam edisi bahasa Spanyol dengan judul Abaco de Pérdida (Visor Libros).

Wolpé dikenal melalui terjemahan puisi Persia, khususnya karya Fariduddin Attar dan Forugh Farrokhzad. Karya terjemahannya meliputi The Conference of the Birds (W.W. Norton), The Invisible Sun (HarperCollins), Sin: Selected Poems of Forugh Farrokhzad (University of Arkansas Press), serta The Forbidden: Poems from Iran and Its Exiles (Michigan State University Press).

Atas karyanya, ia menerima sejumlah penghargaan, antara lain PEN/Heim Translation Grant, Lois Roth Translation Prize, Midwest Book Award, dan Opera America Discovery Award.

Sebagai penulis libretto, ia bekerja sama dengan berbagai komposer lintas negara. Libretto-nya untuk The Conference of the Birds: A Movement-Driven A Cappella Oratorio (komposisi Fahad Siadat) dipentaskan perdana di Los Angeles pada Juni 2022. Karya lintas disiplin lainnya, The Seven Valleys, dipentaskan di Getty Villa Museum pada tahun yang sama.

Naskah dramanya telah dipentaskan oleh berbagai kelompok teater dan masuk dalam sejumlah festival. Ia juga membawakan karya-karyanya dalam berbagai forum internasional.

Sholeh Wolpé menikah dengan sosiolog Edward Telles.

Denny Turner

Penerjemah Inggris–Indonesia

Denny Turner adalah penulis dan penerjemah yang lahir dan dibesarkan di Indonesia. Ia bekerja dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Bahasa Indonesia membentuk keseharian, sementara bahasa Jawa yang hidup dalam keluarga, berakar pada lingkungan Keraton Surakarta dan tradisi Jawa Tengah, dengan tembang dan ungkapan berlapis makna, membentuk ruang batin. Dari perlintasan ini, kepekaan terhadap bunyi, ritme, dan lapisan makna tumbuh lebih dahulu daripada kesadaran tentang penerjemahan.

Ia menempuh pendidikan di Indonesia, Belanda, Jepang, dan Filipina, hingga meraih gelar doktor di bidang administrasi bisnis. Ia kemudian tinggal dan bekerja di berbagai wilayah di Indonesia dan sejumlah negara.

Jalan tasawuf berjalan sejajar dalam hidupnya. Perjalanan ini berangkat dari pengalaman haji yang telah lama berselang, lalu diperdalam melalui perjumpaan yang berlanjut dengan karya-karya klasik al-Ghazâlî, Ibn ‘Arabî, al-Qusyairî, dan lainnya, serta dalam tradisi yang dijalani dalam al-Tharîqah al-Qâdiriyyah wa al-Naqsyabandiyyah al-‘Utsmâniyyah di bawah bimbingan K. H. Achmad Asrori al-Ishaqy, dan dalam jalur al-Syâdziliyyah melalui Sidi Ibrahim Jaffe, dalam sanad yang tersambung ke Sidi Syaikh Muhammad Sa‘id al-Jamal ar-Rifa‘i ash-Shâdhilî di Al-Aqsa, Yerusalem.

Pengalamannya dalam penerjemahan mencakup puisi Yunus Emre serta eksplorasi haiku klasik Jepang, sebagai latihan dalam menangkap ritme, citra, dan jeda. Bersama Pardamean Harahap, ia juga menulis Ruang Tanpa Nama: Refleksi Perjalanan Pencinta Tuhan.

Kata Mereka

Musyawarah para Burung adalah mahakarya abadi Fariduddin Attar, seorang mistikus besar yang pengaruhnya diakui bahkan oleh Jalaluddin Rumi, yang menyebut Attar sebagai ruh dan dirinya hanya sebagai bayangan. Buku ini bukan sekadar puisi sufistik, melainkan peta perjalanan jiwa untuk menembus ego, menemukan makna hidup, dan mengenali hakikat diri. Di tengah dunia modern yang bising, serbacepat, dan kerap kehilangan arah, Musyawarah para Burung tampil sebagai oase kebijaksanaan yang menuntun kita kembali kepada keheningan, cinta, dan kedalaman batin. Edisi terjemahan Indonesia ini tampak dikerjakan dengan kepekaan puitis dan kedalaman spiritual, sehingga karya agung ini tetap hadir dalam bahasa yang indah, jernih, dan menggugah. Melalui terjemahan ini, pembaca dapat merasakan langsung getaran kebijaksanaan yang telah menerangi para pencari kebenaran selama berabad-abad.

Fahruddin Faiz

intelektual, akademisi, dan penulis buku-buku bertema filsafat

Terjemahan ini tidak mengejar kepersisan yang kaku, melainkan menghidupkan ruh Attar dalam bahasa yang membumi dan mengalir. Sebagai pembaca teks aslinya, saya merasakan bagaimana iramanya tetap beresonansi, bahkan pada sejumlah bagian terasa bertemu dengan tradisi puisi Melayu, menghadirkan warna Nusantara yang akrab.

Inilah bacaan yang tidak hanya memikat, tetapi juga mengajak kita turut menempuh perjalanan batin di dalamnya—sebuah karya yang tetap layak dirayakan para pencinta sastra hingga hari ini.

Afifah Ahmad

penulis dan pemerhati sastra Persia

Fariduddin Attar merupakan salah satu sufi besar dalam tradisi Islam. Karya klasiknya, Musyawarah para Burung, telah lama menjadi panduan dalam perjalanan spiritual para pencari makna. Sholeh Wolpé dan Denny Turner menghadirkan kembali ajaran-ajarannya ke dunia kontemporer, sehingga kita dapat menemukan kembali jalan pulang melalui simbolisasi percakapan para burung.

Saya sangat antusias membaca buku ini dan menjadikannya sebagai teman perjalanan dalam menapaki sulûk.

Selamat Brother, atas terbitnya kembali buku ini untuk para pembaca Indonesia. Melalui karya ini, kita kembali menyaksikan kebijaksanaan Attar hadir dan berbicara kepada zaman kita hari ini.

Pardamean Harahap

praktisi self-inquiry, penulis IQRA'